JOKOROWOTLOGOREJO
| -
Daftar | Masuk | Anggota
http://www.jokorowotlogorejo.com/
Berita Utama
.

Kue Pleret Masakan Langka Asal Bakalan Tlogorejo


Indonesia Memang kaya raya akan masakan tradisional,dan buktinya bisa kita lihat sendiri,Begitu banyak makanan tradisional berbagai rasa dan aroma,Khususnya di pulau jawa,Sangking banyaknya sehingga tak jarang orang  lupa akan nama masakan khas jawa,Lihatlah Gambar Di atas,Gambar di atas adalah gambar Kue Pleret,Masakan Jawa yang sudah sangat langka,Bahkan anda tidak akan pernah bisa menemukan jenis makanan Berupa kue Pleret ini,Kecuali anda mau berkunjung di Dukuh : Bakalan Desa: Tlogorejo Kec : Kepohbaru Kab: Bojonegoro, Jawa Timur,kue Pleret Sendiri bisa anda jumpai di Dukuh Bakalan pada saat perayaan KELEMAN ( Pada waktu tanam padi berumur 60 hari ) Kue pleret yang terbuat dari Tepung Beras,Gula Merah,Gula Pasir dan di beri pewarna sedikit ini sangat nikmat,Jika anda mencicipi Kue Pleret yang langka ini,maka lidah anda akan bergoyang seperti Jogednya Inul Daratista,hehehehehehehe....
Berani Mencoba...? Datanglah Ke Kampung Saya................

Ketika Matahari Di Atas Tlogorejo

Sebut aja Kang Paijo yang tampak kusut dan nelangsa. Ia membuka caping dan duduk leyeh-leyeh di bawah pohon singkong. Debu kemarau ditiup angin yang panas menerpa wajahnya yang cokelat kehitaman penuh keringat. Ia sedih menatap Bronjong yang nangkring di sepeda onthel warisan bapaknya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Karena perkembangan zaman beronjong tidak lagi nagkring di atas sepedah Ontel.Banyak Penguna bronjong yang mengunakan sepedah Motor,Sedangkan Pak Paijo setiap hari dia berjualan sayur dengan onthel dan beronjongnya.Jelas Pak Paijo Kalah Cepat Dengan Pedagang Lainya...

Mata pak Paijo terpejam sebentar, lalu tersentak bangun. Terbayang kata-kata isterinya yang minta uang untuk nyumbang. Hajatan bulan ini memang banyak. Pakdhe Marijo dan Mbah Parto mau mantu sedangkan Lik Domo dan Lek Pardi mau menyunatkan anaknya, dan Yu Sawi kemarin melahirkan. Ada 5 orang punya hajat. Semua harus rewang dan nyumbang karena adat yang berlaku di kampung Kang Paijo ( Tlogorejo ) memang begitu. Aib jika tidak datang ke tempat orang punya hajat.

Nyumbang, tidak sekadar membawa uang. Tapi harus membawa gawan. Beras, tempe, jipang, kelapa, bihun, gula, teh bahkan kadang rokok 1 selop. Pak Paijo meraba-raba sakunya. Kempes.Pak Paijo bangun dan kembali menjajakan dagangannya. Di terik matahari musim kemarau yang panas itu, tubuh kurusnya terus mengayuh sepeda onthel memasuki gang-gang di Desa Tlogorejo.

Sayur...sayur...! Sayur...sayur...! Sayur... sayur...!Suaranya melengking-lengking menawarkan dagangannya yang masih banyak. Biasanya menjelang Asar banyak ibu-ibu yang membeli sayur. Tapi kali ini sepi. Pak Paijo tak henti-hentinya menawarkan dagangannya. Melengking-lengking dan parau. Lelah, peluh, dan haus memenuhi tubuh kurusnya. Tapi ia tak gentar. Setiap peluh yang menetes ia niatkan sebagai ibadah. Mencari nafkah untuk anak dan isterinya.

Beli bandeng, Pak...!Ada ibu-ibu melambai-lambaikan tangannya. Pak Paijo bersyukur. Ia menghentikan onthel-nya dan melayani dengan gembira.Pak Paijo tak henti-hentinya bersyukur. Terbayang isteri dan anak-anaknya di rumah yang rajin beribadah dan mendoakannya. Paijem, isterinya adalah wanita yang taat beragama. Dengan sukarela ia membantu menjaga dapur agar tetap berasap. Bekerja sebagai pemilah sampah di TPA sebelah barat kampung. Bau busuk menyengat tak dihiraukannya. Berpuluh-puluh tahun hidup sederhana dan serba pas-pasan dilaluinya dengan tabah.

Pagi ini Pak Paijo tidak berjualan. Sejak bangun pagi Pak Paijo hanya leyeh-leyeh di dipan teras rumahnya. Dulu Pak Paijo tidak mau menjadi buruh pabrik karena rawan terkena PHK, pemecatan. Dia memilih menjadi pedagang dengan alasan jika ditekuni akan sukses dan tak ada yang memerintah apalagi memecat dia. Kenyataannya tidak demikian. Sekarang Pak Paijo Hampir kehilangan pekerjaan. Karena kalah cepet dengan pedagang lainya. Memang di desa tlogorejo banyak penjual sayur dan keperluan dapur tidak mengunakan ontel,
Bu Paijem"Jangan terlalu dirisaukan Pak! Rezeki sudah ada yang mengatur.
Tabah dan tawakal saja!"ucap Bu Paijem sambil menghidangkan ubi rebus dan teh.
Iya, tapi kita kan harus tetap berusaha. Aku tak habis pikir,Zaman Maju Tapi Wong Cilik Selalu Susah,
Oalah Kang, kita itu rakyat kecil, wong cilik ongklak-angklik. Untuk apa mikir yang begitu. Lebih baik berpikir cari pekerjaan lain. Apa sampeyan ikut kerja di TPA saja. Daripada menganggur.
Aku ingin merantau saja. Kemarin Pakdhe Karso nawari kerja jadi buruh bangunan di Bojonegoro. Lumayan, sehari Rp 35.000,ucap Pak Paijo sambil menyeruput teh panas buatan isterinya.
Pak, jangan merantau.Di Bojonegoro Kota sana semua kan mahal. Uang Rp 35.000 tidak akan cukup. Di sana juga ramai. Pokoknya mangan ora mangan kumpul.
Kumpul tidak kumpul, yang penting bisa makan.
Terserah Bapak, Aku tetap tidak setuju.;Ucap bu Paijem"

Pak Paijo menarik nafas dalam-dalam, menahannya sebentar, lalu mengembuskannya lewat mulut.bahkan keluarjaga udara dari buntut, Terasa berat beban yang ditanggungnya kali ini. Sebagai lelaki, kepala rumah tangga, dia harus bisa menghidupi keluarganya. Bekerja, bekerja dan bekerja. Itulah yang ada di benak Pak Paijo

Pagi yang cerah.Pak Paijo bertekad bulat untuk berangkat ke Bojonegoro. Isteri dan anaknya meskipun dengan berat hati, akhirnya mengizinkan Pak Paijo. Sebelum berangkat,Pak Paijo berpesan pada anak isterinya agar senantiasa mendoakannya. Dipeluknya anak isterinya itu dengan erat.
Empat bulan telah berlalu.Pak Paijo belum juga memberi kabar.Bu Paijem menangis tiap hari. Ia ingin mengabarkan bahwa dirinya hamil. Tapi ke mana ia akan memberi kabar? Alamat suaminya saja tidak tahu. Pakdhe Karso yang dulu menawari kerja juga tidak tahu. Katanya dulu dititipkan temannya di Bojonegoro.

Tiap sore, ketika senja yang berwarna jingga menggantung di langit barat,bu Paijem berteriak-teriak memanggil-manggil nama suaminya.Apa yang terjadi pada Pak Paijo....Ikuti Cerita Berikutnya.
Bersambung................ 

Tukar Kaweruh Sesama Wong Cilik

Arti harfiahnya adalah orang kecil. Maksudnya ialah mereka yang kehidupan sosio ekonomis politisnya ditentukan pihak lain. Bisa juga ditafsirkan bahwa wong cilik adalah mereka yang tidak punya akses terhadap kekuasaan. Dalam dunia wayang, wong cilik adalah Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, para punakawan yang setia mendampingi para satria utama dalam usaha menegakkan keadilan dan kebenaran. Kita tahu, Semar adalah dewa mangejawantah (manifestasi dewa) yang hidup di bumi. Karena itu, jika para satria bersikap sembarangan terhadap Semar, mereka bisa kualat.

Dengan kata lain, bila para satria pangembating praja (aparat pemerintah, termasuk para birokrat) mengabaikan suara wong cilik, mereka pun akan mudah tersungkur. People’s power tak bisa diremehkan. Konsep kualat dalam masyarakat Jawa bisa jadi merupakan mekanisme kontrol agar mereka yang di atas tidak begitu saja melupakan kawulo yang di bawah.

Kenyataannya, di masyarakat kita wong cilik masih diperlakukan seperti cah cilik (anak kecil) padahal mereka dudu cah cilik (bukan anak kecil). Sebagai anak kecil tahunya diam, kalau masakan siap akan di panggil, kalau malam cuci kaki terus bobo, selesai. Artinya, wong cilik sebagai cah cilik kodrat politisnya harus diam.

Memang sih ada perkembangan yang lumayan sehubungan dengan perlakuan terhadap wong cilik akhir-akhir ini. Paling tidak kelihatan mereka makin berani menuntut hak dan mengadu kepada anggota dewan atau pejabat daerah, meski kita juga tahu bahwa hasilnya masih pada taraf “kami tampung”. Dengan demikian, wong cilik adalah mereka yang bila mengadukan nasib kepada satria pangembating praja diterima baik-baik dan dijawab : aspirasi kami tampung!

Selebihnya, wong cilik adalah mereka yang jika nyolong ayam jelas ditindak tegas demi tegaknya rule of law. Bukan cuma itu, wong cilik adalah juga para penyangga tegaknya piramida kekuasaan. Sebagai penyangga, posisinya di bawah, membungkuk, dan tak jarang pula penyok.

Kadang golongan menengah berpikir dengan sikap memihak terhadap wong cilik, nasib mereka mungkin akan terangkat. Tidak heran bila kemudian si wong cilik lalu jadi “komoditas internasional” dengan merek dagang “kemiskinan” atau “peningkatan kesehatan” yang akhirnya membuat para pedagang perantara hidup makmur tak kurang suatu apa.

Begitulah, wong cilik selalu tertinggal dari zaman ke zaman. Tapi mereka tetap tabah menunggu giliran. Mungkin ini lantaran mereka kelewat percaya kepada cakra manggilingan, yang menjanjikan bahwa hidup itu bak roda berputar dan bahwa wolak-waliking jaman (perubahan tatanan zaman) akan memungkinkan mereka naik dan yang di atas bisa ke bawah. Mungkin ada benarnya. Ataukah justru konsep cakra manggilingan itu sebenarnya merupakan ideologi kaum mapan untuk meninabobokan wong cilik agar mereka sabar terus di roda bagian bawah. Ideologi penindasan.

Metafora tentang wong cilik lalu menjadi khas, berkonotasi merendahkan dan mengejek. Saya masih ingat, di Jawa wong cilik itu diejek sebagai si cebol. Jika mereka menunjukkan punya ambisi, langsung saja ditekan dengan ucapan : o, si cebol nggayuh lintang (si cebol mau memetik bintang – sama dengan pepatah Indonesia si pungguk merindukan bulan). Suatu kemustahilan. Namun, bila si cebol tadi benar-benar mampu nggayuh lintang (bisa naik tangga sosial), segera mereka akan dicemooh : kere munggah bale yang arti harfiahnya si gembel masuk balai / rumah.

Kedua peribahasa ini bisa saja merupakan sejenis self mockery (wong cilik mentertawakan dirinya sendiri), tapi bisa juga ditafsirkan bahwa keduanya merupakan cermin dari sikap tidak rela kelas elit jika wong cilik ikut-ikut menikmati kursi kekuasaan dan duduk sederajat dengan mereka.

Welehhh Welehhhh Wong Cilik Kok Yo Di Akal Akalin Terus Sama Wong Gedeee.... Pancen Hasemmm...

Raden Adipati Hario Matahun I Setia Pada Mataram

Dalam buku sejarah Kabupaten Bojonegoro, pada tahun 1740 Raden Tumenggung Hario Metahun I menerima tugas dari susuhunan untuk mengamankan Madura yang ingkar pada kekuasaaan Mataram. Satu pasukan yang di pimpimnya sendiri berangkat menuju Madura. Pasukan Madura telah membuat benteng di Gresik dan terjadilah pertempuran sengit. Pasukan Madura kalah dan pasukan yang tersisa melarikan diri balik ke Madura.

Namun sayang, Raden Tumenggung Hario Matahun I terperdaya oleh beberapa prajurit Madura yang menyamar hendak memberi upeti. Karena tiba-tiba saja prajurit-prajurit itu menyerang Raden Tumenggung Hario Matahun I gugur di bedolong, sadayu.

Bojonegoro (Rajekwesi) berada di bawah Kerajaan Mataram hingga periode ketika Adipati dijabat oleh Raden Tumenggung Hario Matahun III (1743-1755). Karena setalah ada perjanjian Gianti 1755, status Rajekwesi di tetapkan menjadi wilayah Kerajaan Yogyakarta.

Dari sejarah Matahoenan, Raden Tumenggung Hario Matahun I mempunyai empat istri yakni dari Pajinggang di Kartasura (istri pertama), nyai Mas anak kiai Mertawangsadi Padangan (istri kedua), Raden Ayu Lor Putra Raden Sumadirdja (istri ketiga), dan Raden Ayu Kedaton (istri keempat). Dia selalu di banggakan sejak Susushanan Surakarta.
( Sumber Artikel : http://kimhariometahun.blogspot.com/2014/02/adipati-hario-matahun-i-setia-pada.html )

Makam Keramat Surowijoyo Di Desa Ngraseh

Ada sebuah makam di Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Diyakini oleh masyarakat Desa ngraseh sebagai makam salah satu Bupati Bojonegoro, yakni Adipati Surowiloyo, Dalam sejarah Bojonegoro, nama Adipati Surowiloyo memang tidak ada, tapi yang ada adalah Surowijoyo, yakni adipati yang memerentah 1705-1718.

Makam tersebut memamang bukan seperti makam-makam adipati lainya. Karena makam hanya berupa tiga gundukan batu bata. Menurut Mansur juru kunci makam, tiga makam tanpa nisan itu adalah makam Singoyudho, Haryomeloyo dan Surowiloyo. "Semua masih satu kelaurga. "katanya.

Untuk menuju ke lokasi tidak ada tanda pengumuman atau plakat apapun. Karena hanya ada dari jalan ke arah Sumberarum, ada gang kecil sekitar 100 meter dari masjid dan sekolahan Desa Ngraseh. Jalan samping makam adalah jalan kampung biasa. makam itupun tidak mencolok kelihatanya hanya bertumpukan batu bata menggunung.

Mansur mengatakan, kompleks makam adipati itu oleh warga di jadikan tempat perayaan sedekah bumi setiap tahunya, terutama dari warga Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, orang Ngraseh mengenal makam Adipati itu sebagai Punden Gedong dan jarang yang mendekati makam jika tidak ada keperluan. Sebab, pusara diyakini masih keramat.
( Sumber Artikel : http://kimhariometahun.blogspot.com/2014/02/makam-surowijoyo-di-ngraseh.html )

Wong Cilik Nyangkruk

Ada yang ngaku partainya wong cilik, tapi slogannya “bikin harga sembako murah” Lah, coba kita pake logika terbalik. Alat produksi kita yg terbesar kan ya petani to….????, ladang produksi terbesar ya sawah to..???

Karena memang kita ini negara agraris. Nah kalo harga sembako mau diturunkan, otomatis ( SOTOMANIS ) juga akan menurunkan harga jual dari produsennya to…???dan berarti juga mau bikin petani tambah kere to…??? Dan Soto Manisnya Siapa yang Makan Hayooooo.....???

Petani Indonesia selalu dihadapkan pada posisi yang serba memilih, memilih menjual hasil produksinya dengan harga “seadanya”/manut tengkulak, atau memilih mati kere atau mati malu (karena nggak punya duit untuk bayar utang pupuk, utang sewa sawah, utang traktor, dll) dengan tidak menjual hasil produksinya.

Kalo ngaku partainya wong cilik ya harusnya bisa bikin petani Indonesia punya “bargaining position” yang kuat untuk mengendalikan harga hasil produksinya dong. Kalau bisa begitu, nanti pasti tak contreng. Agar supaya hakekatnya daripada para petani bisa juga makmur, sehingga dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, para pemuda desa betah untuk meneruskan “pekerjaan” orang tua mereka untuk jadi petani.

Coba lihat sekarang, mana ada anak petani yang mau jadi petani….???karena susah lihat orang tuanya susah. Kalo keadaan ini nggak segera di perhatikan, krisis pangan akan menjadi hal yang bukan tidak mungkin dalam 2 dasawarsa kedepan.

Podo Pora Pikiranmu Ro Pikiranku.......Hehehehehe Crewetttttttttttttt.....

Suara Rakyat ( Wong Cilik )


Suara Rakyat ( Wong Cilik )
Suara Rakyat katanya Suaranya yang harus didengar , Suara yang katanya pula Nyaring dan Membahana, benarkah seperti itu …??? atau hanya sekedar Suara angin yang sepoi-sepoi wush..wush …menyibakkan helaian rambut serta memaksa kelopak mata menutup berlahan , itu kali yang dimaksud Suara Rakyat atau mungkin saja itu Suara Rakyat palsu yang kerap menipu telinga Wong Cilik yang berkeliaran di gang – gang sempit nan kumuh.

Suara Rakyat harusnya Corong bagi Negara yang Maju dan Makmur , Suara Rakyat adalah Gema yang mendayu namun menusuk pikiran dan Hati untuk selalu menjalankan nurani hati yang bersih,bahkan terkadang Suara Rakyat itu ada ketika kita tidak membutuhkannya,

Bukanya tidak Ada ketika kita membutuhkannya… Apa harusnya memang seperti itu!
 
Advertise
Advertise
Editing Template By: JokoRowo TlogoRejo Original template By: Creating Website
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. KIM Wong Cilik- All Rights Reserved