JOKOROWOTLOGOREJO
| -
Daftar | Masuk | Anggota
http://www.jokorowotlogorejo.com/
Berita Utama
.
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Raden Bagus Lancing Kusumo Penyebar Islam Pertama di Bubulan

Banyak yang belum tahu sejarah penyebaran Islam di wilayah Kecamatan Bubulan dan wilayah Bojonegoro bagian selatan. Dari cerita lisan, Raden Bagus Lancing Kusumo adalah salah satu penyebar Islam di Bubulan.

Ketika itu di Kabupaten Bojonegoro mayoritas masih beragama Hindu. "Dahulu Raden Bagus Lancing Kusumo berasal dari Pajang Jawa Tengah, dikejar-kejar Belanda kerena beragama Islam," kata Watimo, juru kunci makam di Kecamatan Bubulan.

Penanggung jawab makam sekitar 10 tahun ini, menggantikan leluhurnya terdahulu secara turun temurun itu juga mengaku kalau lupa ia juru kunci yang keberapa.

Setelah dikejar-kejar Belanda, Raden Bagus Lancing melarikan diri ke Desa Clebung Kecamatan Bubulan, hingga ia meninggal dan dimakamkan. "Beliau pembawa ajaran Islam pertama di Clebung,"

Untuk mengenang jasa dan menjaga tradisi, setiap malam Jumat tidak hanya masyarakat sekitar, tetapi dari daerah lain ikut berdoa di makam. Namun jumlah peziarah semakin banyak pada Jumat Pahing dalam penanggalan Jawa.

"Banyak masyarakat berdatangan termasuk dari Surabaya, Tuban, Kalimantan dan Sumatera. Rehap bangunan makam juga mendapat bantuan dari pengunjung asal Kalimantan,"
( Sumber Artikel : http://kimjatialam.blogspot.com/2014/05/raden-bagus-lancing-kusumo-penyebar.html )

Raden Adipati Hario Matahun I Setia Pada Mataram

Dalam buku sejarah Kabupaten Bojonegoro, pada tahun 1740 Raden Tumenggung Hario Metahun I menerima tugas dari susuhunan untuk mengamankan Madura yang ingkar pada kekuasaaan Mataram. Satu pasukan yang di pimpimnya sendiri berangkat menuju Madura. Pasukan Madura telah membuat benteng di Gresik dan terjadilah pertempuran sengit. Pasukan Madura kalah dan pasukan yang tersisa melarikan diri balik ke Madura.

Namun sayang, Raden Tumenggung Hario Matahun I terperdaya oleh beberapa prajurit Madura yang menyamar hendak memberi upeti. Karena tiba-tiba saja prajurit-prajurit itu menyerang Raden Tumenggung Hario Matahun I gugur di bedolong, sadayu.

Bojonegoro (Rajekwesi) berada di bawah Kerajaan Mataram hingga periode ketika Adipati dijabat oleh Raden Tumenggung Hario Matahun III (1743-1755). Karena setalah ada perjanjian Gianti 1755, status Rajekwesi di tetapkan menjadi wilayah Kerajaan Yogyakarta.

Dari sejarah Matahoenan, Raden Tumenggung Hario Matahun I mempunyai empat istri yakni dari Pajinggang di Kartasura (istri pertama), nyai Mas anak kiai Mertawangsadi Padangan (istri kedua), Raden Ayu Lor Putra Raden Sumadirdja (istri ketiga), dan Raden Ayu Kedaton (istri keempat). Dia selalu di banggakan sejak Susushanan Surakarta.
( Sumber Artikel : http://kimhariometahun.blogspot.com/2014/02/adipati-hario-matahun-i-setia-pada.html )

Makam Keramat Surowijoyo Di Desa Ngraseh

Ada sebuah makam di Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Diyakini oleh masyarakat Desa ngraseh sebagai makam salah satu Bupati Bojonegoro, yakni Adipati Surowiloyo, Dalam sejarah Bojonegoro, nama Adipati Surowiloyo memang tidak ada, tapi yang ada adalah Surowijoyo, yakni adipati yang memerentah 1705-1718.

Makam tersebut memamang bukan seperti makam-makam adipati lainya. Karena makam hanya berupa tiga gundukan batu bata. Menurut Mansur juru kunci makam, tiga makam tanpa nisan itu adalah makam Singoyudho, Haryomeloyo dan Surowiloyo. "Semua masih satu kelaurga. "katanya.

Untuk menuju ke lokasi tidak ada tanda pengumuman atau plakat apapun. Karena hanya ada dari jalan ke arah Sumberarum, ada gang kecil sekitar 100 meter dari masjid dan sekolahan Desa Ngraseh. Jalan samping makam adalah jalan kampung biasa. makam itupun tidak mencolok kelihatanya hanya bertumpukan batu bata menggunung.

Mansur mengatakan, kompleks makam adipati itu oleh warga di jadikan tempat perayaan sedekah bumi setiap tahunya, terutama dari warga Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, orang Ngraseh mengenal makam Adipati itu sebagai Punden Gedong dan jarang yang mendekati makam jika tidak ada keperluan. Sebab, pusara diyakini masih keramat.
( Sumber Artikel : http://kimhariometahun.blogspot.com/2014/02/makam-surowijoyo-di-ngraseh.html )
 
Advertise
Advertise
Editing Template By: JokoRowo TlogoRejo Original template By: Creating Website
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. KIM Wong Cilik- All Rights Reserved