JOKOROWOTLOGOREJO
| -
Daftar | Masuk | Anggota
http://www.jokorowotlogorejo.com/
Berita Utama
.

Diam Lebih Baik Daripada...?

Kim Wong Cilik | Kalau ditanya, bisa nggak kita mengukur iman kita? Bisa nggak mengukur iman kita ini,sudah tinggi tingkatannya atau belum? Kalaupun kita bilang bisa, itu mulut kita yang bicara. Hati kita
bagaimana? Dan yang jelas, sebenarnya perlu atau tidak kita ngurusi imannya orang lain? Bukankah itu urusan orang tersebut dengan penciptanya? Memang bisa jadi ahli ibadah kadar imannya bagus, namun belum tentu juga orang yang tidak bisa mengaji kadar imannya lebih rendah.Kalaupun ingin menilai kadar iman orang lain, punya urusan apa kita?

Ada yang berkata bahwa orang beriman yang paling baik adalah yang paling baik akhlaknya. Dalam hubungannya dengan sesama, menurutku yang paling penting sebenarnya adalah akhlak. Yang orang lain
butuhkan adalah akhlak kita. Urusan akidah biarlah menjadi urusan sang pemilik hidup saja.
Rasulullah
SAW bersabda:"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah
ia berkata baik atau diam "(HR. Bukhari Muslim).
"Tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga istiqamah hatinya. Dan tidak akan istiqamah hati seseorang sehingga istiqamah lisannya" (HR. Ahmad)"

Mungkin pernah kita temukan seseorang yang sangat rajin ibadahnya tidak hanya ibadah wajib, melainkan ibadah sunah shalat malam juga hampir tak pernah terlewatkan. Tapi orang ini senang sekali menggunjing, senang sekali mengadu domba teman-temannya. Nah, di sini lantas yang salah apanya? Apakah ibadahnya ada yang salah atau bagaimana?
Bukankah shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar?

Mungkin saja memang ibadahnya yang tidak melibatkan hati, atau mungkin juga dia hanya shalat ketika sedang shalat. Jadi dia tidak membawa shalatnya turut serta dalam urusan dunianya ketika dia selesai shalat. Kita sama sekali tidak bisa menilai.Untuk urusan ibadah lagi-lagi yang bisa menilai hanya Tuhan. Orang lain tidak butuh shalat kita, tapi baik tidaknya perkataan kita, baik tidaknya akhlak kita.

Ucapan yang tidak terjaga selain bisa menyakiti orang lain juga menjadi sumber dosa. Tidak hanya kata-kata kotor atau kasar, menggunjing kejelekan orang, ataupun berkata bohong saja, namun juga perkataan yang kita sendiri tidak tahu kebenarannya sehingga bisa menjadi fitnah yang menyakiti hati orang lain. Jadi jika tidak bisa berkata baik, lebih baik diam saja.

Untuk belajar menahan diri, mungkin
hadist berikut bisa mengingatkan kita.
Barang siapa yang bisa menjaga mulutnya, maka Allah akan tutupi keburukannya" (HR. Abu
Nuaim).
Bukankah kita sendiri juga punya keburukan? Jadi sebelum berkata buruk tentang orang lain, kita ingat saja hadist ini. Kita tidak ingin keburukan kita dibuka Allah dihadapan orang lain bukan?

Cari Uang Haram Susah Apalagi Yang Halal...?

Kim Wong Cilik | Judul diatas adalah pandangan bagi orang-orang yang belum melek. Orang yang terus-menerus merasa cemas bagaimana mendapatkan uang sehingga dilakukan dengan menempuh cara apapun. Ini berarti dia hanya menggunakan cara pandang dunia, cara pandang mata manusia, dan itu merupakan manusia yang sudah melupakan akhirat, melupakancara pandang Tuhan.

Cari Haram Susah Apalagi Uang Yang Halal
Beberapa hari yang lalu aku mengalami kejadian lucu. Sebuah penipuan kecil. Penipuan kok lucu? Ya, karena jumlahnya yang tidak seberapa, hanya uang sejumlah dua belas ribu rupiah. Uang
segitu mungkin hanya cukup untuk makan satu kali di warung sederhana. Beda
cerita lagi kalau yang hilang sampai ratusan ribu atau juta;an, itu baru nggak ada lucu-nya sama sekali, hehe

Bermula sekitar jam sebelas pagi
Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu setengah baya di depan pasar setengah berteriak mengucapkan salam. Setelah kutemui dia bercerita kalau baru saja menyerempet seorang anak dengan motornya.
Kemudian dia bilang mau pinjam uang, soalnya uang yang dia bawa kurang untuk ganti rugi. Katanya akan dikembalikan segera setelah dia pulang ke rumah untuk mengambil uang.

Dasar otak ku yang lagi lemot, aku sama sekali tidak menaruh curiga.
Aku mengiyakan saja dan bergegas mengambil uang. Baru setelah teman kerjaku tanya,apa mau dikasih padahal nggak kenal? Kasih lima ribu saja, sarannya. Aku baru mikir, iya ya; jangan-jangan penipu. Tapi alih-alih merasa marah karena hendak ditipu, aku justru merasa kasihan. Eh, ini aneh juga ya, mau ditipu tapi malah merasa kasihan pada yang akan menipu. Jangan-jangan, otakku perlu direparasi, hehe;
Akhirnya tetap kuberikan padanya uang sejumlah yang dia minta, dua belas ribu rupiah. Sambil tetap berharap semoga kecurigaanku salah. Semoga wanita ini memang jujur, dan benar-benar membutuhkan pertolongan.

Kemudian ternyata sampai sore aku pulang kerja, wanita itu sama sekali tidak kembali. Namun aku sama sekali tidak merasakan penyesalan. Justru membuatku kembali berpikir, apakah wanita itu memang benar-benar kepepet sehingga menggunakan cara seperti itu?
Tidak adakah sama sekali cara lain yang baik untuk mendapatkan uang? Padahal melihat dari penampilannya, dia tidak seperti orang yang kekurangan. Apalagi dia membawa motor. Ah, entahlah; yang jelas aku yakin Tuhan tidak akan pernah salah membagikan rejeki pada hambanya.

Aku percaya, apapun yang diambil orang dari kita, jika memang itu hak kita, maka akan dikembalikan
Karena aku sangat percaya Tuhan Membagi dan Mengambil Rejeki hambanya dgn cara sudah ia tentukan,
Tuhan dengan cara lain juga yang tidak kita duga-duga. Bahkan dengan cara yang tidak kita sadari.
Apalagi rejeki yang sebenarnya tidak hanya dalam bentuk uang saja.

Makanya, aku sama sekali tidak memahami jalan pikiran para koruptor pemakan uang Negara yang selalu menghiasi layar kaca. Untuk apa dipandang terhormat dimata manusia karena berlimpah harta
namun rendah di mata Tuhan yang Maha Kuasa? Bukankah orang hidup itu intinya adalah Inna lillahi wa inna ilaihi raji;un? kepadaNya lah kita nanti akan kembali.
Kita tidak bisa lari dan mengelak. Mencari dunia itu baik asalkan dengan cara yang baik, dan mempergunakannya dengan baik dan bijak pula. Maka tidak perlulah kemrungsung akan
dunia. Yang paling utama Allah selalu meridhoi segala langkah kita. Itu sudah cukup.
( Tulisan Di Atas Hanyalah Ilustrasi Semata )

Bila Derajat Kita Di Bandingkan Drajat Orang Gila

KIM Wong Cilik | Bila Derajat Kita Di Bandingkan Drajat Orang Gila
Yang dimaksud dengan orang gila di sini adalah istilah yang sering digunakan di masyarakat untuk
menyatakan orang yang tidak sehat akalnya, tidak waras, atau berperilaku sangat
aneh. Di lingkungan dunia medis lebih sering digunakan istilah gangguan jiwa

Sedangkan Cara pandang kebanyakan orang,
menempatkan orang gila sebagai manusia yang mempunyai derajat paling rendah.
Orang gila tidak bisa mempergunakan akalnya sehingga bisa dikatakan, jangankan
untuk mengerti norma dan sopan santun, bahkan telanjang di tempat umum pun
mereka tidak malu dan tetap terlihat cuek ( Karena Dia Orang Gila )

Kalau begitu, jelas derajat kita lebih tinggi dong? Masak dibandingkan kok dengan orang gila...? Namun cara pandang lain bisa meletakkan lebih mending orang gila daripada manusia normal

Cara pandang yang satu ini menemukan bahwa orang gila sangat mungkin lebih baik daripada manusia normal. Misalnya masih lebih baik orang gila, yang tidak mungkin merampok, korupsi, atau menyakiti hati orang. Masih mending orang gila, yang tidak mungkin dengki, iri atau baik kepada orang lain hanya karena ada kepentingan. Sedangkan manusia normal bisa berkemungkinan melakukan segala hal tersebut. Makanya manusia normal bisa lebih baik dari orang gila, bisa juga lebih rendah dari orang gila.

Orang gila tidak berkewajiban sholat, puasa, dan ibadah-ibadah wajib yang lain. Sedanangkan manusia normal beragama islam yang memiliki kewajiban untuk beribadah, masih sangat mungkin melakukannya setengah hati bahkan melalaikannya. Maka bukankah masih mending orang gila yang tidak berdosa karena tidak beribadah daripada manusia normal yang dosanya bertumpuk-tumpuk ketika sering melalaikan ibadah?

Namun disini bukan berarti mending jadi gila saja daripada normal. Bagaimanapun juga manusia normal masih berkesempatan menabung amal sholeh untuk memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Kita hanya cukup mengambil pelajaran, jangan sampai kita berperilaku yang membuat kita memiliki derajat lebih rendah dari orang gila. ( Hanyala Cerminan Hidup )

Pekerjaan Terhebat dan Mulia Kaum Perempuan

Kim Wong Cilik | Ketika aku bertemu dengan teman lama, seorang perempuan yang sudah menikah, memiliki anak dan menjadi ibu rumah tangga, seringkali ketika ditanya tentang kesibukannya
sehari-hari dia menjawab, aku cuma ibu rumah tangga biasa, dengan agak malu-malu.
Kata-kata dan biasa seolah mengisyaratkan keminderannya karena tidak
bekerja di luar rumah dan menghasilkan  uang.
Aduh kawanku kau punya pekerjaan paling hebat, terhormat, dan paling mulia di
dunia ini, mengapa lantas merasa rendah diri dan malu?

Apalagi ketika teman tersebut
memiliki pendidikan S1 atau S2 dan menjadi ibu rumah tangga, tidak sedikit mereka
yang berpendapat sia-sia saja dia sekolah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya menjadi ibu rumah tangga

Seorang ibu sangat berperan besar
dalam pembentukan watak seorang anak. Bahkan menurut M. Quraish Shihab dalam
bukunya yang berjudul "Perempuan, mau
atau tidak mau, suka atau tidak, pandai atau bodoh, perempuan adalah pembentuk
watak. Dia adalah sekolah yang, bila disiapkan dengan baik, akan melahirkan
manusia unggul, bahkan generasi yang tangguh dan luhur. Kalau tidak
dipersiapkan atau tidak siap, perempuan akan menghasilkan manusia-manusia yang
tidak berguna, bahkan berbahaya bagi masyarakatnya.

Sebegitu besar dan pentingnya
peran seorang ibu bagi pembentukan karakter anak, disamping peran seorang ayah
dan lingkungan tentu saja. Seorang ibu, bagaimanapun juga adalah tempat
pertamakali seorang anak belajar. Seorang ibu yang bekerja di luar rumah pun
harus memiliki prioritas. Bayangkan jika seorang ibu lebih menitikberatkan
pekerjaannya diluar rumah daripada urusan rumah tangganya, entah apa yang akan
terjadi pada anak dan rumah tangganya kelak.

Lagipula mengurus anak dan rumah
bisa jadi lebih berat dan melelahkan jika dibandingkan dengan bekerja di luar
rumah. Makanya pekerjaan menjadi ibu rumah tangga tidak bisa disepelekan. Apalagi
tidak sepeserpun dia menerima gaji atas pekerjaannya itu. Pekerjaan yang
dilakukannya hanyalah berlandaskan rasa cinta dan takwa. Lihat.. betapa
mulianya seorang ibu rumah tangga. Jadi jika kau seorang ibu rumah tangga,
katakanlah dengan penuh percaya diri dan kepala terangkat. Karena yang kau
lakukan itu adalah pekerjaan yang sangat hebat dan mulia. Tidak sepantasnya
merasa malu atau minder, kawan.

Renungan Hati Wong Cilik

Kim Wong Cilik | Renunganku : Aku bukanlah pejabat publik yang mempunyai pengaruh di tengah-tengah masyarakat,tapi aku hanyalah seorang manusia lumrah yang berada di tengah-tengah masyarakat sekitar ku, kadang aku menjadi masalah karena kenakalan ku sebagai reaksi anak muda yang sering bertindak tanpa berpikir lebih jauh dulu...kadang juga aku menjadi solusi buat masyarakat karena kelebihan ku walaupun aku hanya bisa membuat mereka tertawa karena kekocakan ku...

 Aku juga bukanlah orang kaya yang selalu memegang uang dan memiliki berbagai fasilitas yang bisa mengangkat reputasi ku di tengah tengah masyarakat karena harta ku. jadi ketika aku tampil di tengah masyarakat bukan karena harta ku atau embel-embel yang ku sandang tetapi karena pribadi ku sendiri...

Aku juga bukanlah orang penting yang selalu di cari orang orang yang punya kepentingan.. justru malah akulah yang selalu mencari orang orang penting di masyarakat ku dengan harapan aku bisa pelajari kenapa mereka menjadi orang penting di masyarakat ku,itu pun aku banyak kecelik karena banyak ku temui mereka dia ngggap penting karena hartanya...derajat keluarganya atau bahkan karena mereka punya sesuatu (klenik)yang menjadikan mereka menjadi penting.... dan yang ku cari bukan yang seperti itu...

Semua orang yang mengenal ku tahu persis kalau aku bukanlah ustadz lebih lebih kyai yang selalu membawa dalil dan perkataan yang penuh muatan ayat suci.. ketika aku mengumandangkan adzan di masjid,ketika aku ikut kajian islam,ketika aku membawa selebaran yang membahas islam bukan berarti aku adalah seorang yang mumpuni dalam agama...tapi aku hanya ingin memposisikan diri ku berada dalam orang-orang yang nyaman dan serius dengan keislaman ku sendiri...

Aku ternyata juga bukan seorang tokoh yang sering di datangi dan di libatkan di masyarakat.. aku hanya bagian dari mereka yang berada dalam wadah yang berusaha peduli pada problematika masyarakat...tatkala melihat aku selalu berada di forum-forum tokoh masyarakat bukan berarti aku seorang tokoh tetapi aku ingin belajar kepada mereka...

Ketika aku di bilang orang sibuk.. Ternyata itu juga salah karena aku sendiri sedang mencari kesibukan...aku sendiri bingung dan penasaran bahkan terobsesi supaya menjadi orang yang sangat sibuk dan itu belum aku dapatkan....Aku juga bukan... manusia yang baik karena ukuran baik itu sendiri memiliki makna bias...

Tetapi aku hanyalah seseorang yang berusaha untuk menjadi baik dan belajar menjadi baik dengan standar sebagai hamba allah swt. insya allah....Aku juga selalu Tunduk,Tapi aku tunduk Bukan berarti aku takut, tapi aku sadar atas apa yang aku miliki adalah kuasa Tuhan,dan hingga tiba saatnya nanti Tuhan akan mengambilnya dariku,Aku juga menyadari dengan apa yang terjadi padaku,merupakaan karma dari sebab dan akibat perbuatanku sendiri selama di dunia ini......

Wong Cilik Ongklak Angklik

Wong cilik linggih dingklik, ongklak angklik.
Dingklike cilik yen di senggol njempalik.

Wuala..... dadi wong ki nek cilik nyandang ra patiyo apik, mangane sithik yen arep tanduk ndadak lirak lirik.

Yen salah sithik sing gede banjur mendelik, arep nandangi apa-apa mesti gendulak-gendulik.

Wong cilik - wong cilik nduwe duit sithik ya kepingin iwak pitik.

Nanging kabeh mau ndadekake kepenak, amargo ora nate KPK tilik.

Wis ya Yu, aku mulih disik aku lagi ninggal dang-dangan sega berase pulen, beras menthik.

Salam ya Yu kanggo pak Lik

Beginilah nasib-nasib wongcilik, uang yang menjamìn hidup setiap manusia yang dapat menciptakan segala angan-angan, mewujudkan segala impian, sumber segala bentuk kemaksiatan, dan sebaliknya adalah sumberkebaikan dan pahala bagi orang-orang yang ikhlas dan beriman, karna uang orang bisa kehilangan ingatan, tega mebunuh sesama, merampok,mencuri, bahkan semua pejabat, sampe pns kelas bawa pun suka Menlakukanya tanpa malu-malu, tapi ko kenapa gajinya mau dinaekan lagi ya, sementara disisi lain banyak rakyat yang menderita, kelaparan, padahal mereka juga bayar pajak. sungguh kacau negri ini. Ingatlah, harta kekayan, uang dan lain sebagainya, ga'akan dibawa mati, kecuali amal ibadah kita, yang ilakukan dengan jalan benar dan ikhlas. surga dan neraka tidak dapat dibeli dengan uang, seperti dinegri ini yang segalanya bisa di beli dengan uang,

Raden Bagus Lancing Kusumo Penyebar Islam Pertama di Bubulan

Banyak yang belum tahu sejarah penyebaran Islam di wilayah Kecamatan Bubulan dan wilayah Bojonegoro bagian selatan. Dari cerita lisan, Raden Bagus Lancing Kusumo adalah salah satu penyebar Islam di Bubulan.

Ketika itu di Kabupaten Bojonegoro mayoritas masih beragama Hindu. "Dahulu Raden Bagus Lancing Kusumo berasal dari Pajang Jawa Tengah, dikejar-kejar Belanda kerena beragama Islam," kata Watimo, juru kunci makam di Kecamatan Bubulan.

Penanggung jawab makam sekitar 10 tahun ini, menggantikan leluhurnya terdahulu secara turun temurun itu juga mengaku kalau lupa ia juru kunci yang keberapa.

Setelah dikejar-kejar Belanda, Raden Bagus Lancing melarikan diri ke Desa Clebung Kecamatan Bubulan, hingga ia meninggal dan dimakamkan. "Beliau pembawa ajaran Islam pertama di Clebung,"

Untuk mengenang jasa dan menjaga tradisi, setiap malam Jumat tidak hanya masyarakat sekitar, tetapi dari daerah lain ikut berdoa di makam. Namun jumlah peziarah semakin banyak pada Jumat Pahing dalam penanggalan Jawa.

"Banyak masyarakat berdatangan termasuk dari Surabaya, Tuban, Kalimantan dan Sumatera. Rehap bangunan makam juga mendapat bantuan dari pengunjung asal Kalimantan,"
( Sumber Artikel : http://kimjatialam.blogspot.com/2014/05/raden-bagus-lancing-kusumo-penyebar.html )
 
Advertise
Advertise
Editing Template By: JokoRowo TlogoRejo Original template By: Creating Website
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. KIM Wong Cilik- All Rights Reserved